Pengaruh Pemberian Jus Lidah Buaya (Aloe Vera Linn) Terhadap Kadar Kolesterol Total Serum

Kamis, 26 Januari 2012      0 komentar

Lita Dwi Astari dan Agus Sulaeman
Jurusan Gizi

Abstrak

Consumtion behavior recently changes from natural and balanced diet becomes unhealthy and instant diet coupled with high stress levels and incorrect lifestyle. The emergence of metabolic disorders resulting in hypercholesterolemia that caused coronary heart disease. Aloe Vera is one of the plants phytopharmaca are constantly being developed as a cure of various diseases, but has not been reported as anti-hypercholesterolemia. Aloe vera leaf contains various nutrients antihypecholesterolemia. The aim of this study was to determine the effect of aloe vera juice (Aloe vera Linn) with decreased of total cholesterol level. This study was a quasi-experimental one group of samples (one group pre and post test design). The sample frame was formed from employee Health Polytechnic Bandung. The sampling method used was purposive sampling. The analysis used dependent t test. The study showed supplementation of 50 ml extracts aloe vera juice for 7 days statistically significant (p=0.004) decreased total cholesterol level with average 11.89 mg/dl or 4.82 %. Provision of aloe vera juice tends to decreased total cholesterol level.

Key words: Aloe Vera Juice, Hypercholesterolemia.

Analisis Spasial Konsentrasi NO2 dan PM10 Sebagai Suatu Sistem Pendukung Pencegahan Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Teguh Budi Prijanto dan Nia Yuniarti Hasan
Jurusan Kesehatan Lingkungan

Abstrak

Keadaan kesehatan di berbagai wilayah bervariasi dipengaruhi oleh tingkat perkembangan wilayah dan kualitas lingkungannya. Perbedaan antar wilayah, dalam hal perkembangan sosial ekonomi. kepependudukan, pencemaran lingkungan dan budaya an menimbulkan permasalahan kesehatan masyarakat yang berbeda. Mengingat masalah kesehatan selalu berubah sesuai dengan pola sosial ekonomi dan lingkungan, maka para pengembil keputusan dalam penyusunan kebijaksanaan dan program kesehatan perlu memperhatikan dan mengetahui data dan informasi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan munculnya masalah kesehatan tersebut. Tujuan studi ini adalah melakukan analisis secara spasial konsentrasi NO2 dan PM10 dengan kejadian penyakit ISPA pada Balita di Kota Bandung berdasarkan hasil pengukuran dan sebagai upaya meningkatkan kepedulian dan kemampuan pelaksana program di daerah agar mau dan mampu menanggulanginya. Penelitian cross-sectional ini dilakukan di 5 (lima) wilayah Puskesmas di Kota Bandung dengan cara melakukan pengukuran/analisis tentang konsentrasi NO2 dan PM10 di udara pada 5 (lima) titik lokasi Pukesmas, serta kejadian penyakit ISPA pada Balita Puskesmas di wilayah Kota Bandung untuk kemudian dilakukan analisis dan pemetaan menggunakan software. Hasil penelitian menunjukkan pemetaan masalah pencemaran di Kota Bandung untuk parameter NO2 dan PM10 di beberapa wilayah sudah melebihi NAB. Hasil analisa parameter udara PM 10 dan NO2 di 5 (lima) titik Pukesmas di Kota Bandung untuk kadar PM10 menunjukkan rentangan antara 0,20 µg/m3 (PKM Caringin) sampai dengan 0,43 µg/m3 (PKM Puter) dengan kadar rata-rata 0,342 µg/m3 sedangkan untuk kadar NO2 menunjukkan rentangan antara 0,038 mg/m3 (PKM Ujungberung) sampai dengan 0,127 mg/m3 (PKM Kiaracondong) dengan kadar rata-rata 0,07 mg/m3. Puskesmas yang kedua parameter memenuhi persyaratan adalah PKM Ujungberung. Kejadian penyakit ISPA dapat diketahui dari hasil pemeriksaan/diagnosa dokter di 5 (lima) Puskesmas di kota Bandung. Hasil penelitian untuk status responden dari 350 responden yang berstatus sakit ISPA sebanyak 166 (47,4%) responden dan berstatus tidak sakit ISPA sebanyak 168 (52,6%) responden. Disimpulkan bahwa untuk kadar NO2 berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,144 sehingga dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara kadar NO2 dengan kejadian penyakit ISPA pada Balita di Kota Bandung, demikian juga untuk kadar PM10 di udara berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,132 sehingga dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara kadar PM10 dengan kejadian penyakit ISPA pada Balita di Kota Bandung. Akan tetapi bisa disimpulkan bahwa kadar NO2 dan PM10 di udara di Kota Bandung merupakan variabel yang potensial pengaruhnya terhadap kejadian penyakit ISPA pada Balita di Kota Bandung (p < 0,25). Kata Kunci : Analisa Spasial, NO2, PM10, ISPA

Mutu Pelayanan Pendidikan Keperawatan Di Jurusan Keperawatan Bogor Dan Hubungannya Dengan Tingkat Kualitas Lulusan Jurusan Keperawatan Bogor

Eti Surtiarti ; Ati Nuraeni ; Khaerudin
Jurusan Keperawatan Bogor

Abstrak

Globalisasi merupakan suatu kondisi yang tidak terelakkan oleh semua bangsa di dunia, dan bahkan oleh setiap umat manusia di bumi ini. Berbagai perubahan pada era ini menimbulkan berbagai tantangan yang membutuhkan strategi yang berbeda dalam upaya menghadapinya. Perubahan-perubahan global mengharuskan pada setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan kesehatan untuk segera membenahi dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, agar dapat memberikan jawaban terhadap tantangan zaman. Peran pendidikan kesehatan sangatlah strategis dalam pembangunan kesehatan karena pendidikan kesehatan tidak saja memiliki fungsi yang hakiki dalam mempersiapkan sumber daya manusia kesehatan yang akan menjadi aktor-aktor dalam menjalankan fungsi pembangunan kesehatan. Dalam merealisasikan tujuan pendidikan harus dirancang program pendidikan yang beroreintasi mutu pelayanan pendidikan dan bermuara pada kepuasan konsumen (lulusan).
Mutu pelayanan merupakan tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen (Love Lock, 1988). Dengan menempatkan unsur mutu pelayanan pelanggan sebagai indikator penting maka hal tersebut dapat meningkatkan kinerja dan daya saing Jurusan Keperawatan Bogor di tengah semakin gencarnya tingkat kompetisi yang terjadi saat ini. Mutu pendidikan dapat dikatakan baik apabila lulusannya merasa puas terhadap pelayanan pendidikan yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara mutu pendidikan keperawatan dengan tingkat kepuasan lulusan di Rumah Sakit – Rumah Sakit yang ada di kota Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah lulusan D III Keperawatan yang bekerja di Rumah Sakit kota Bogor ( PMI, Salak, Karya Bakti, Marzuki Mahdi dan RS Hermina) periode tahun 2008-2009. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2010-September 2010 dengan jumlah responden 67 orang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasaan lulusan yang menyatakan baik adalah 55 orang (82,1%) dan sisanya 12 orang (17,9%) menyatakan tingkat kepuasannya kurang baik sedangkan mutu pendidikan meliputi Pelayanan pemangku kepentingan hasilnya baik (83,6%); Pelayanan manajemen, administrasi & keuangan dengan hasil baik (52,2%); Pelayanan proses pendidikan dan pengembangan dengan hasil baik (50,7%); Pelayanan etos dan budaya kerja dengan hasil penelitiannya baik (71,6%). Tingkat kepuasan lulusan yang meliputi waktu tunggu (6 bulan : 97%) jenis pekerjaan sudah sesuai dengan bidang keilmuannya karena dapat merawat klien dengan baik (94 %), penguasaan jobnya sudah baik (97 %) dan sudah diberikan penghargaan berupa mengikuti pelatihan-pelatihan walaupun bekerja baru satu s/d dua tahun (58,2 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara mutu pendidikan keperawatan terhadap tingkat kepuasan lulusan yang bekerja di RS. Kota Bogor dengan nilai P-value = 0,545. Hal ini mungkin dikarenakan lulusan berasal dari program reguler dan baru bekerja satu - dua tahun di RS. Kota Bogor. Rekomendasi perlu penelitian lanjutan tentang kepuasan lulusan terhadap lulusan yang sudah bekerja lebih dari 5 (lima) tahun.

Kata kunci : Mutu Layanan Pendidikan, Kualitas Lulusan

Pengaruh Senam Nifas Terhadap Pemulihan Fisik Ibu Post Partum Spontan Di Rumah Sakit Pmi Dan Salak Kota Bogor

Eti Surtiati dan Nawati
Jurusan Keperawatan Bogor

Abstrak

Pemulihan fisik ibu post partum merupakan hal yang sangat penting bagi ibu setelah melahirkan sebab selama masa kehamilan dan persalinan telah terjadi perubahan fisik. Nifas atau post partum adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang membutuhkan waktu sekitar enam minggu. Pada masa ini secara fisiologis akan terjadi perubahan fisik ibu karena adanya perubahan hormonal yang akan berpengaruh terhadap beberapa sistem tubuh. Senam nifas adalah rangkaian aktivitas atau latihan peregangan otot yang dilakukan setelah melahirkan meliputi ambulasi dini dan latihan fisik yang dimulai dari latihan yang sederhana dilanjutkan dengan latihan yang lebih berat. Tujuan dilakukan senam nifas pada ibu setelah melahirkan adalah membantu mempercepat pemulihan keadaan ibu mempercepat proses involusi dan pemulihan fungsi alat kandungan, membantu memulihkan kekuatan dan kekencangan otot panggul, perut dan perineum terutama otot yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan; memperlancar pengeluaran lochea; membantu mengurangi rasa sakit pada otot, merelaksasikan otot-otot yang menunjang proses kehamilan dan persalinan, meminimalkan timbulnya kelainan dan komplikasi nifas. Desain penelitiannya quasi eksperimen dengan meneliti dua kelompok ibu post partum yang melaksanakan senam nifas sebagai kelompok intervensi dan kelompok yang tidak melaksanakan senam nifas sebagai kelompok control dengan jumlah responden sebanyak 26 orang (13 orang kelompok intervensi dan 13 lagi kelompok kontrol). Pengumpulan data dilakukan dengan cara meminta persetujuan terlebih dulu dan dilakukan dengan memberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaatnya dari penelitian ini serta pengetahuan tentang senam nifas. Data kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan uji independen.Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi senam nifas yang dilakukan pada ibu post partum spontan berpengaruh terhadap pemulihan fisiknya. Senam nifas juga dapat meningkatkan pemulihan fisik ibu post partum spontan sebanyak Sembilan kali lebih baik pada ibu yang diberi intervensi senam nifas dibandingkan dengan ibu yang tidak diberikan intervensi senam nifas.



Kata Kunci : Senam Nifas

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Karyawan Aduk Terhadap Implementasi Sistem Manajemen Mutu Iso 9001:2008 Di Jurusan Keperawatan Bandung

Euis Nurhayati1 ; Asep Taryana1 ; Iryanti1
Jurusan Keperawatan Bandung

ABSTRACT
Background: Bandung Nursing Program is one division of the Health Polytechnic of Bandung, Ministry of Health Indonesia. The implementation of quality management systems ISO 9001: 2008 at the college have followed several activities i.e.; preparation, audited and sertification stages. Up to now, the Nursing Program was having status of a maintenance or survailance stage. Although the Nursing program have done several improvement continoustly, the management of financed and administrations (ADUK) still needs further improvement. Objective: The study was aimed to find out the knowledge relationships and staffs behavior on the implementation of quality management systems ISO 9001: 2008 at the Nursing program of Bandung Health Polytechnic. Methods: The observed variables consisted of knowledge staffs and staffs behavior as independent variables. The implementation of quality management systems was also observed as dependent variable. The study used a descriptive analysis with Cross Sectional Design. The total respondents were 39 peoples which have to fill self administered questionares and there observations. Data analysis were done through univariate analysis to see the distribution prequency of each variables, and Chi Square (bivariate) analysis to find the magnitute of its’ relationships (OR). Results: The results showed there were not relationships among knowledge staffs and staffs behavior with the implementations of quality management systems ISO 9001: 2008. The value of knowledge was P=0.799, staffs behavior value was P=0.017 , and the OR value was 7.33. About 56.4 % of knowledge level staffs were not performance, while 61.5 % of staffs behavior were also not supporting its ISO 9001: 2008 implementation. The study recommended that several efforts needed to be improved continuously in order to achieve the documentation systems of ISO 9001: 2008 perfectly, i.e.; intensive communications among the staffs and supporting of facilities improvement.

Key words : Nursing program, quality management systems, knowledge and behavior.

Tingkat Pengetahuan Berhubungan Erat Dengan Frekwensi Kunjungan Antenatal

Rery Kurniawati dan Siti Rusyanti
Jurusan Kebidanan Rangkasbitung

Abstrak

Berdasarkan data WHO pada tahun 2005, bahwa setiap tahunnya wanita yang bersalin meninggal dunia mencapai lebih dari 500.000 orang (Winkjosastro, 2005). Menurut SDKI tahun 2009 AKI di Indonesia adalah 248/100.000 KH, di Propinsi Banten tahun 2008 sebanyak 256/100.000 KH (Dinkes Prop. Banten, 2009). Sedangkan jumlah kematian ibu di Kabupaten Lebak adalah 43 orang dari 22.000 jumlah kelahiran (Dinkes Kab. Lebak, 2009). Penyebab tidak langsung antara lain anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan frekwensi kunjungan antenatal dan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Rangkasbitung Kabupaten Lebak.Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil trimester III di wilayah Puskesmas Rangkasbitung, dengan jumlah sampel 92 orang.Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan frekwensi kunjungan ANC. Dengan pengetahuan yang cukup tentang kesehatan diharapkan setiap ibu hamil akan melakukan pemeriksaan kesehatan dengan lengkap. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Adapun kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit empat kali selama kehamilan yaitu satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga (Saifudin, A.B., 2001). Tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian anemia. Sebagian besar perempuan mengalami anemia selama kehamilan, Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi. Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan (Saifudin, A.B., 2009) Diperlukan upaya peningkatan pengetahuan tentang kesehatan ibu hamil. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan variabel yang lebih banyak dan uji korelasi sehingga dapat menunjukkan keeratan hubungan antar variabel penelitian.

Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Kunjungan Antenatal, Anemia
Referensi: 17, 1997-2009


Pemberdayaan Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Demam Berdarah Melalui Pendidikan Kesehatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Cibeureum

Lia Meilianingsih dan Taty Kusmisty
Jurusan keperawatan Bandung

ABSTRACT

Dengue Haemorhagic Fever ( DHF ) is one of tropical desease, cause worried for Indonesia people because may lead mortality rapidly. DHF tendens to increase every years in West Java, mainly endemic area at Kota Cimahi with insiden high rate was 366,97 0 /00 of population. Prevention effort in Cibeureum Health Centre, suggest health education that need family and community support. Aim of health education was increased knowledge in prevention desease. The purpose of study to examine family empowerment through family education in DHF desease prevention. The quasi experiment study randomized with pre test – post test group design, examine 52 respondens as control group and 52 respondens as treatment group. The treatment group treated by 3 times along 3 weeks. The data analysis was used T test dependent and independent. The result were not different between knowledge, attitude, and psikomotor DHF prevention, before treatment both control group and treatment group ( P value = 0.835, 0.952, and 1.00 ). After treatment there were significant deferences in knowledge, attitude, and psikomotor. Both control group and treatment group ( P value = 0.00 ). The conclusion study health education was influenced of knowledge, attitude, and psikomotor DHF prevention. Recommendation, for health centre should give continuing health education through health promotion program.